Perkenalkan namaku adalah Layla, umurku 25 tahun. Aku adalah seorang istri sekaligus ibu rumah tangga.
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Proin vestibulum dignissim diam, et efficitur felis commodo et. Mauris vel diam pellentesque lorem lacinia luctus. Nulla quam magna, pharetra in ultrices at, condimentum id tellus. Sed suscipit sapien sed turpis ultrices viverra.
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Proin vestibulum dignissim diam, et efficitur felis commodo et. Mauris vel diam pellentesque lorem lacinia luctus. Nulla quam magna, pharetra in ultrices at, condimentum id tellus. Sed suscipit sapien sed turpis ultrices viverra.
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Proin vestibulum dignissim diam, et efficitur felis commodo et. Mauris vel diam pellentesque lorem lacinia luctus. Nulla quam magna, pharetra in ultrices at, condimentum id tellus. Sed suscipit sapien sed turpis ultrices viverra.
"Iya Pak Fer, tapi aku gak enak nebeng mobil Pak Fer terus setiap hari" Jawabku Sambil tersenyum meliriknya yang sedang mengemudi dengan suasana keakraban yang semakin terjalin. Sudah 2 minggu lebih aku ikut atau nebeng mobil Pak Ferdian yang rumahnya searah denganku. "Gak apa-apa Tri, saya juga kan jadi ada temen ngobrol" Ujarnya Walau sesekali terlihat genit, namun Pak Fer membuatku nyaman dengan canda dan tawa di sela obrolannya yang sesekali terselip candaan nakalnya. Sedikit mesum memang, namun dengan jenaka melontarkannya sehingga tak terdengar cabul atau merendahkan. "Ya namanya juga anak-anak pak" Ujarku memberi komentar kepadanya Saat dia menceritakan kenakalan dan kelucuan kedua anaknya di rumah yang masih kecil sambil tertawa kecil. "Iya, jadi gimana kamu sudah bikin anak?" Selorohnya dengan tiba-tiba memotong ucapanku. "Iih.... Pak Fer" Sergahku seraya mencubit lengannya sambil tertawa. "Pasti tiap malam kan? hahaha" Balasnya dengan kembali meledek ku. Aku ikut tertawa sambil mencubit perutnya, membuat Pak Fer meringis menahan cubitan ku sambil tetap memegang setir mobilnya. "Ya gak tiap malam kali Pak Fer, lemes dong. hihihi" Ujarku menimpalinya. "Loh, kenapa gak tiap malam? Apalagi kamu kan masih muda, baru 2 tahun menikah" Ujarnya Membuatku tersipu dengan wajah memerah yang ku sembunyikan dengan menoleh ke sisi kiri jalan raya. ‘Andai benar bisa tiap malam’ Dalam hatiku berbisik dengan rasa gundah di hatiku. Sambil tertawa dan tersipu mendengar Pak Fer menceritakan kalimat-kalimat kemesraan dan kenikmatan pasangan muda seusiaku seperti ini. "Iih... kok jadi dibahas" Sergahku memotong ucapannya, aku hanya bisa tertawa dengan rasa malu dan risih. "Maaf ya Tri, cuma bercanda kok" Ucap Pak Fer yang menjelaskan kalau dia hanya bercanda dan menggambarkan dirinya saat masih menjadi pasangan muda dahulu. ——— "Kok keliatan lemes sih Tri pagi ini?” Tanya Pak Fer saat menjemput ku di depan komplek. Aku duduk disampingnya dan dia mulai mengemudi menuju kantor, sambil tersenyum aku menjelaskan kalau semalam aku gak bisa tidur. "Hayo berapa ronde sama mas nya, hahaha" Sambil tertawa Pak Fer menggodaku yang hanya bisa ikut tertawa. Andai benar semalam aku digenjot suamiku seperti perkataan Pak Fer tentu nikmat sekali. Tapi kenyataannya aku melakukan masturbasi sendiri disamping suamiku yang sudah tertidur karena lelah. "Iih.. Pak Fer" Sergahku. "ya gak apa-apa kan sudah sama2 dewasa... lagian kamu sama suamimu... bukan sama orang lain kan he he", ujarnya. "ya gitulah Pak Fer..." Ucapku sambil tertawa mencubit pinggangnya yang menghindar geli. … "iiih masa sih Pak Fer...?" tanyaku saat obrolan Pak Fer membahas tentang sperma. "iya katanya... dengan dioles ke wajah...buat masker jadi bikin awet muda...atau ditelan waktu ngisep....". Ucapnya dengan nada serius. Namun sejak tadi aku merasa vaginaku sudah basah, ku lirik tonjolan selangkangan Pak Fer yang terlihat menggelembung. "tapi kamu pernah isep kan punya mas mu...?!" Ujar Pak Fer mengejutkan lamunanku. "eehmm.. iya.. pernah... sekali...". jawabku entah apa yang membuatku menjawab begitu polosnya. "loh kok pernah sekali...?", tanyanya dengan menatapku dan membuat wajahku memerah malu. Pak Fer memberondong dengan kalimatnya yang seakan membuatku tak dapat mengelak dari keadaanku yang sebenarnya, Pak Ferdian seakan bisa membaca pikiranku.
halaman 2
"Iya Pak Fer, tapi aku gak enak nebeng mobil Pak Fer terus setiap hari" Jawabku Sambil tersenyum meliriknya yang sedang mengemudi dengan suasana keakraban yang semakin terjalin. Sudah 2 minggu lebih aku ikut atau nebeng mobil Pak Ferdian yang rumahnya searah denganku. "Gak apa-apa Tri, saya juga kan jadi ada temen ngobrol" Ujarnya Walau sesekali terlihat genit, namun Pak Fer membuatku nyaman dengan canda dan tawa di sela obrolannya yang sesekali terselip candaan nakalnya. Sedikit mesum memang, namun dengan jenaka melontarkannya sehingga tak terdengar cabul atau merendahkan. "Ya namanya juga anak-anak pak" Ujarku memberi komentar kepadanya Saat dia menceritakan kenakalan dan kelucuan kedua anaknya di rumah yang masih kecil sambil tertawa kecil. "Iya, jadi gimana kamu sudah bikin anak?" Selorohnya dengan tiba-tiba memotong ucapanku. "Iih.... Pak Fer" Sergahku seraya mencubit lengannya sambil tertawa. "Pasti tiap malam kan? hahaha" Balasnya dengan kembali meledek ku. o Aku ikut tertawa sambil mencubit perutnya, membuat Pak Fer meringis menahan cubitan ku sambil tetap memegang setir mobilnya. "Ya gak tiap malam kali Pak Fer, lemes dong. hihihi" Ujarku menimpalinya. "Loh, kenapa gak tiap malam? Apalagi kamu kan masih muda, baru 2 tahun menikah" Ujarnya Membuatku tersipu dengan wajah memerah yang ku sembunyikan dengan menoleh ke sisi kiri jalan raya. ‘Andai benar bisa tiap malam’ Dalam hatiku berbisik dengan rasa gundah di hatiku. Sambil tertawa dan tersipu mendengar Pak Fer menceritakan kalimat-kalimat kemesraan dan kenikmatan pasangan muda seusiaku seperti ini. "Iih... kok jadi dibahas" Sergahku memotong ucapannya, aku hanya bisa tertawa dengan rasa malu dan risih. "Maaf ya Tri, cuma bercanda kok" Ucap Pak Fer yang menjelaskan kalau dia hanya bercanda dan menggambarkan dirinya saat masih menjadi pasangan muda dahulu. ——— "Kok keliatan lemes sih Tri pagi ini?” Tanya Pak Fer saat menjemput ku di depan komplek. Aku duduk disampingnya dan dia mulai mengemudi menuju kantor, sambil tersenyum aku menjelaskan kalau semalam aku gak bisa tidur. "Hayo berapa ronde sama mas nya, hahaha" Sambil tertawa Pak Fer menggodaku yang hanya bisa ikut tertawa. Andai benar semalam aku digenjot suamiku seperti perkataan Pak Fer tentu nikmat sekali. Tapi kenyataannya aku melakukan masturbasi sendiri disamping suamiku yang sudah tertidur karena lelah. "Iih.. Pak Fer" Sergahku. "ya gak apa-apa kan sudah sama2 dewasa... lagian kamu sama suamimu... bukan sama orang lain kan he he", ujarnya. "ya gitulah Pak Fer..." Ucapku sambil tertawa mencubit pinggangnya yang menghindar geli. … "iiih masa sih Pak Fer...?" tanyaku saat obrolan Pak Fer membahas tentang sperma. "iya katanya... dengan dioles ke wajah...buat masker jadi bikin awet muda...atau ditelan waktu ngisep....". Ucapnya dengan nada serius. Namun sejak tadi aku merasa vaginaku sudah basah, ku lirik tonjolan selangkangan Pak Fer yang terlihat menggelembung. "tapi kamu pernah isep kan punya mas mu...?!" Ujar Pak Fer mengejutkan lamunanku. "eehmm.. iya.. pernah... sekali...". jawabku entah apa yang membuatku menjawab begitu polosnya. "loh kok pernah sekali...?", tanyanya dengan menatapku dan membuat wajahku memerah malu. Pak Fer memberondong dengan kalimatnya yang seakan membuatku tak dapat mengelak dari keadaanku yang sebenarnya, Pak Ferdian seakan bisa membaca pikiranku.
halaman 3
Lorem ipsum dolor sit amet
